Showing posts with label ahok. Show all posts
Showing posts with label ahok. Show all posts

Wednesday, June 8, 2016

Unknown

Ahok Kesiangan Ngantor


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengancam memotong Tunjangan Kerja Daerah (TKD) bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang terlambat masuk kantor selama bulan Ramadan pada tahun ini. Pasalnya, jam kerja PNS selama Ramadan telah diubah, dengan waktu masuk pukul 07.00 WIB dan jam pulang dipercepat pada pukul 14.00 WIB.

"Enggak ada toleransi dong. Karena pulang jam 4. Kita sudah potong 1 jam. Makanya tinggal pilih saja. Nanti kan diatur yang kerja seperti apa," kata Ahok di Balai kota, Jakarta, Senin (6/6) lalu.

Ahok mengaku khawatir jika jam kerja diulur hingga jam 08.00 WIB dan PNS bisa tidur setelah sahur. Sehingga kemungkinan untuk terlambat jauh lebih besar.

"Sekarang gini, kamu masuk jam 08.00 WIB, kamu tidur dulu bangun jalan lebih macet sudah siang. Jalan lebih macet terlambat kamu malah. Belum lagi kebablasan kalau tidur. Tidur itu lebih sering kebablasan kalau sudah bangun tidur lagi," jelas Ahok.

Bekas politikus Gerindra ini mengancam bakal memberikan sanksi bagi anak buahnya yang terlambat. Tak ada toleransi, Ahok akan memotong TKD bagi PNS DKI Jakarta yang terlambat masuk kerja selama bulan Ramadan.

Namun demikian, ancaman terhadap PNS DKI ini tak sejalan dengan kenyataan yang terjadi. Orang nomor satu di DKI Jakarta itu justru tidak memberikan contoh yang bagus. Tak seperti biasanya, Ahok malah telat ngantor ke Balai Kota.

Ahok tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Padahal dalam Keputusan Gubernur DKI No. 1348 Tahun 2016 tentang jam kerja PNS di bulan Ramadan 1437 H tahun ini mewajibkan seluruh PNS masuk pukul 07.00 WIB dan pulang pukul 14.00 WIB.

"Enggak, aku hari ini agak kesiangan aja hehe," ungkapnya kepada wartawan sambil tersipu di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (7/6).

Meski berencana untuk masuk dengan waktu yang sama dengan PNS DKI Jakarta, Ahok mengaku tidak bisa pulang pada pukul 14.00 WIB. Sebab dia harus menyelesaikan semua berkas yang ada.

"Kalau saya pulang tergantung berkas selesai. Tapi lumayan bulan puasa berkasnya agak tipis ini," terangnya.

sumber : merdeka.com

Read More

Tuesday, June 7, 2016

Unknown

Kabar Gembira Dari Ahok


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berencana menambah sejumlah fasilitas olahraga di Monas dan Lapangan Banteng. Dengan demikian, warga Jakarta yang kesulitan menjalankan aktivitas olahraga bisa memanfaatkan lapangan tersebut hingga malam hari.

"Rumah warga di permukiman penduduk itu sangat padat, anak-anak kurang pengawasan. Kami bisa sediakan mereka lokasi untuk kegiatan positif di Monas dan Lapangan Banteng," ujar gubernur yang akrab disapa Ahok ini, Senin (6/6).

Selain sarana olahraga, Ahok juga menilai perlu ada penambahan fasilitas penerangan dan kamar mandi yang bersih di Monas. Setelah berolahraga, warga dapat mandi tanpa khawatir air yang digunakan kualitasnya tidak baik.

"Toiletnya juga dikasih shower. Jadi mereka bisa mandi gratis di sana, belum tentu di rumah mereka juga kondisi airnya baik," ujar mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

Ahok yakin, dengan adanya fasilitas olahraga yang memadai, maka generasi muda perhatiannya akan teralihkan dari kegiatan-kegiatan tak baik seperti tawuran.

"Di rumah mereka harus tidur bergantian, makanya mereka keluar. Silakan saja berolahraga bola atau basket di Monas dan Lapangan Banteng," ujar Ahok.

sumber : jpnn.com
Read More
Unknown

New York Times Menulis Ahok Mengguncang Politik di Indonesia

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi sorotan media ternama AS, New York Times. Dalam koran terbesar di AS itu cerita tentang Ahok berada dalam halaman A10 dengan judul: Run by Jakarta Governor Up ends Indonesia’s Party Politics.

Dalam laporan New York Times yang diterbitkan pada 5 Juni 2016, dijelaskan, sejak menjadi gubernur DKI Jakarta pada 2014 Ahok telah menunjukkan taring pada birokrat yang tak kompeten dan melakukan penyimpangan anggaran.

Namun kini, target barunya adalah mengguncang sistem politik oligarki yang sudah berakar di Indonesia. New York Times menyebut Ahok sebagai "orang luar" dalam politik sebab dia berasal dari kelompok minoritas. Ahok beretnis Tionghoa dan beragama Kristen di tengah-tengah penduduk Jakarta yang mayoritas beragama Islam.

Ahok dengan pilihannya melalui jalur independen untuk maju di Pilkada DKI Jakarta 2017 telah mengguncang sistem politik Indonesia.

Sejak Indonesia mulai menerapkan sistem pemilihan umum yang bebas pada akhir tahun 1990, calon independen sudah dipastikan kalah. Namun, kali ini Ahok justru mendapat banyak dukungan.

Padahal 10 partai di parlemen dikuasi oleh dinasti politik, mantan jenderal, dan taipan bisnis yang membiayai mereka. Sementara sisanya adalah kelompok berbasis Islam yang ideologi politiknya bisa berubah tergantung pada koalisi partai.

Koran dengan oplah terbesar di AS itu kemudian mengutip Charlotte Setijadi, periset di program Ilmu Indonesia di Institut Studi Asia Tenggara-Yusof Ishak yang berbasis di Singapura: "Ahok menjadi alternatif bagi warga yang sudah muak dengan sistem politik di Indonesia,".

"Saya pikir ini adalah gambaran yang bisa menolongnya dalam pemilihan gubernur," ucap Charlotte.

Dalam laporan New York Times dikatakan Ahok memilih jalur independen karena tak ingin memiliki nasib yang sama seperti Presiden Jokowi. Sebab meskipun menjadi presiden, Jokowi hanya 'petugas partai' dan kebijakannya kerap 'disembelih' oleh partai pendukungnya sendiri yaitu PDIP.

Ahok pun sempat menolak tawaran diusung oleh PDIP yang diketuai oleh Megawati Sukarnoputri. Sikap Ahok itu dinilai sebagai deparpolisasi oleh para politikus senior. Sebab dinilai dapat melemahkan peran partai politik.

Dalam laporan itu ditulis, Ahok telah merebut hati para anak muda dan warga kelas menengah ke bawah Jakarta. Mereka menyukai kebijakan Ahok seperti pembangunan MRT, pekerja penyapu jalan atau pasukan oranye, dan 'kartu pintar' untuk mensubsidi pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi warga miskin.

Dalam beberapa survei menunjukkan Ahok jauh lebih unggul daripada kandidat gubernur lain. Bahkan lebih dari 80 persen pemilih ingin agar Ahok maju melalui jalur independen.

New York Times juga menyoroti TemanAhok. Menurut koran ini, para relawan Ahok ini memiliki peran besar untuk meloloskan mantan Bupati Belitung Timur itu dalam Pilkada DKI Jakarta.

TemanAhok mengatakan tidak akan berhenti sampai mendapat satu juta tanda tangan, yang harus diverifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum.

Kumpulan relawan ini menjual merchandise seperti kaus, stiker, dan gelang untuk mencari dana agar terus dapat membiayai kegiatannya.

Kini partai politikpun berlomba-lomba mencari para penantang Ahok. Pada Pilkada DKI Jakarta 2012, Ahok yang kala itu menjadi calon wakil Jokowi diserang isu SARA oleh lawan politiknya. Namun, isu ini dipercaya tak akan mempan dalam Pilkada DKI 2017 nanti.

Sandiaga Uno, seorang pengusaha terkemuka yang kemungkinan menjadi salah satu lawan Ahok, telah mengakui bahwa pilihan Ahok melalui jalur independen ini seharusnya menggugah pendirian partai politik.

"Jika mereka tidak mendapatkan kandidat yang tepat yang didukung oleh rakyat, mereka akan menghadapi calon independen yang didukung rakyat. Partai politik harus menyiapkan strategi untuk menarik bakat terbaik," ujar Sandiaga.

sumber : liputan6.com
Read More

Monday, June 6, 2016

Unknown

Dicecar Najwa Soal Barter Reklamasi Ini Jawaban Ahok

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyarankan pembawa acara program Mata Najwa, Najwa Shihab membaca kembali Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terkait istilah barter dalam kasus reklamasi Teluk Jakarta. "Anda mesti buka Kamus Besar Bahasa Indonesia," kata Ahok saat mengisi acara Mata Najwa di Stadion Gelora Bung Karno pada Sabtu malam, 4 Juni 2016.

Menurut Ahok, dalam KBBI, istilah barter adalah tindakan tukar-menukar barang atau jasa, yang kedua belah pihak mendapatkan hasil yang sama. Hal ini berbeda dengan permintaan kontribusi yang dilakukan oleh Ahok kepada pengembang reklamasi.

"Kata kontribusi itu tidak sama dengan barter," ujar Ahok menegaskan. Menurut dia, kontribusi adalah tambahan yang dibebankan pengembang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam hal ini, terkait pemberian izin gubernur terhadap pembangunan reklamasi Teluk Jakarta.

Ahok tak mempermasalahkan jika istilah barter ini nantinya akan digunakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menelisik dugaan tindak pidana korupsi. Dia justru mempersilahkan KPK untuk menelisik istilah barter yang selama ini mencuat.

Ahok yakin bahwa selama ini KPK menjalankan tugasnya dengan profesional. Apalagi bukti-bukti berita acara pemeriksaan (BAP) atas tersangka Ariesman Widjaja nantinya juga akan dibuka di persidangan secara transparan.

Dalam diskusi yang disaksikan sedikitnya 11.500 penonton tersebut, Ahok juga menyinggung terkait diskresi yang dilakukannya selama ini. Menurut dia, setiap pejabat memiliki hak untuk menggunakan diskresi, asalkan itu dilakukan tidak untuk kepentingan pribadi.

Selama ini, kata dia, banyak pejabat yang takut untuk mengambil upaya diskresi. Karena itu, Ahok mendorong agar pejabat publik semakin transparan dengan rutin melaporkan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN). "Saya harap semua pejabat bisa membuktikan asal-usul hartanya."

Ahok selama ini getol mendukung reklamasi Teluk Jakarta. Menurut dia, jika tak segera dilakukan reklamasi, maka 50 tahun ke depan rakyat Jakarta bisa dilanda kelaparan. Ia menambahkan, semua negara telah melakukan hal yang sama, mulai dari Belanda, Cina, Singapura, Hongkong, dan lain sebagainya.

Beberapa waktu lalu, Ahok sempat marah kepada Tempo atas penyebutan istilah barter dalam kasus reklamasi Teluk Jakarta. Tempo menemukan catatan keuangan 13 proyek PT Muara Wisesa Samudra terkait dengan biaya pekerjaan kontribusi tambahan. Hal ini juga tak disangkal oleh KPK.

sumber : tempo.co
Read More

Sunday, June 5, 2016

Unknown

Ahok : Tanggul Tersebut Sudah Sering Jebol

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengatakan peristiwa jebolnya tanggul Pantai Mutiara bukan pertama kali. Tanggul tersebut sudah sering jebol. "Rumah saya itu sebelumnya sering kena, ketika pulang malam sudah banjir saja," ujarnya di gedung Yayasan Tzu Chi, Jakarta Utara, Sabtu, 4 Juni 2016.

Menurut Ahok, jebolnya tanggul tersebut lantaran bangunannya tak kuat menahan pasang air laut. Peristiwa jebolnya tanggul seharusnya menjadi tanggung jawab pengembang, PT Intiland Development. "Iya, harusnya dia yang beresin melalui kontribusi tambahan," ujarnya.

Sebelumnya, Jumat, pukul 19.00, tanggul Pantai Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara, jebol. Akibatnya perumahan yang terletak di kawasan itu pun terendam banjir. Panjang tanggul yang ambrol di depan Apartemen Pantai Mutiara itu mencapai 15 meter.

Kepala Pelaksana Kantor Penanggulangan Bencana Kota Jakarta Utara Febriana Tambunan mengatakan jebolnya tanggul Pantai Utara Jakarta disebabkan pasang air laut. Permukaan air laut meningkat melebihi tinggi tanggul yang hanya sekitar satu meter. "Airnya merendam perumahan Pantai Mutiara," kata Febriana saat dihubungi, Jumat, 3 Juni 2016.

sumber : tempo.co
Read More

Saturday, June 4, 2016

Unknown

Elektabilitas Ahok Turun

Elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menurun berdasarkan hasil survei yang digelar Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI).

Menurut Direktur Eksekutif pada Pusat Kajian Politik dan Kebijakan Strategis LSPI Ahmad Nasuhi, Ahok dan timnya sejauh ini tidak mampu meyakinkan publik terkait sejumlah isu yang merugikan nama baik Ahok.

“Soal reklamasi, isu barter kebijakan itu luar biasa. Belum lagi PTUN yang mengabulkan gugatan nelayan,” ujar Nasuhi berdasarkan siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (4/6/2016).

Kendati menurun, elektabilitas Ahok berdasarkan hasil survei tersebut masih berada paling atas dibandingkan dengan bakal calon gubernur lainnya.

Saat responden ditanya mengenai siapa yang akan dipilih apabila Pilkada DKI Jakarta dilaksanakan hari ini, Ahok masih memimpin. Ia memperoleh 23 persen suara responden.

Menyusul kemudian, Yusril Ihza Mahendra dengan 19 persen suara responden, Tri Rismaharani 6,9 persen, dan Sandiaga Uno 6,3 persen. Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat hanya memeroleh 3,7 persen.

Dalam simulasi empat nama calon gubernur, elektabilitas Ahok masih memimpin dengan 36,4 persen, disusul Yusril 29,8 persen, Rismaharani 9,5 persen, Sandiaga Uno 2,5 persen.

Sementara itu, sisanya, 21,8 persen, mengaku belum memutuskan untuk memilih. Nasuhi juga menilai, hasil survei ini patut dicermati oleh Ahok yang berniat mengikuti Pilkada DKI 2017 sebagai calon petahana.

Sebab, menurut dia, dengan angka elektabilitas yang beda sekitar enam persen dengan Yusril, tidak menutup kemungkinan Ahok akan disalip.

“Kalau benar begitu, Yusril sangat bisa kalahkan Ahok,” kata Nasuhi.

Survey LSPI dilakukan pada 22-27 Mei 2016 dengan metode multistage random sampling. Jumlah sampel dalam survei ini adalah 440 responden, dengan margin of error sebesar 4,8 persen pada tingat kepercayaan 95 persen.

Penggalian data dilakukan dengan wawancara tatap muka langsung. Nasuhi mengaku tak terlalu kaget dengan tren penurunan elektabilitas Ahok tersebut.

Selain karena Ahok yang dinilainya tak mampu meyakinkan publik terkait isu negatif, Nasuhi menilai kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras memengaruhi elektabilitas Ahok.

sumber : kompas.com
Read More